Anak Laki-Laki itu

Mengunjungi nenek di kota sebelah. Banyak keluarga berkumpul di sana, kebanyakan orang-orang yang kukenal.

Seorang anak laki-laki muncul di dapur mencampur susu beruangnya dengan gula. Satu sendok, dua sendok, tiga sendok, entah sampai berapa sendok lagi. Dia mencari panci kecil untuk merebus susu itu dengan harapan gula akan larut dan susu itu menjadi manis. Sebenarnya dapur itu tempat persembunyianku, dari orang-orang yang tidak kukenal. Tidak ada niatan untuk menyapanya hingga dia semakin berlama-lama.

“susu itu ga akan manis biarpun kamu masukin satu kilo gula”

“kayaknya iya” katanya, lalu pergi.

Aku masih SMP saat itu, pertama kali mengenalnya. Dia lebih tua setahun (mungkin) dariku.

Dia manis, aku menggambarkan masa depan cerah di wajahnya. Tipe-tipe anak kota masa itu. Aku lupa apa yang dilakukan orang tuanya, namun yang pasti mereka terpandang. Dia bersekolah di pesantren, prestasinya kebanggaan orang tuanya. Aku sempat iri karna kupikir hidupnya teduh. Dia mendapat apa yang diinginkannya.

Ayahnya sudah lama sakit, kala itu aku tidak begitu paham sakit seperti apa ayahnya atau seperah apa. Lalu meninggal dunia tidak lama kemudian. Ibunya menikah lagi, juga meninggal tidak lama setelah itu. Anak itu ditinggalkan saat berumur 17 tahun bahkan dia belum lulus SMA dengan adik perempuannya yang berumur 13 tahun. Dari sini hidupnya mulai jauh dari gambaranku akan masa depannya saat pertama kali bertemu dia.

Sesekali kudengar kabarnya melalui media sosial. Sulit mencari kerja katanya, apalagi dengan ijasah SMA. Dia anak yang pintar, ada keinginan kuliah. Mungkin belum ada jalan di sana. Entah apa yang dilakukannya sekarang. Bahwa kesabaran akan membawanya ketempat paling indah suatu saat nanti.

Advertisements

Bangun

Aku ga pernah sadar. Saat aku sedang menikmati acara favoritku untuk menghilangkan bosan, saat mendengarkan lagu terbaru untuk membunuh atmosfir senyap, saat membaca status status orang lain untuk sekedar tahu, saat duduk di cafe cafe untuk menikmati kopi dan cerita. Saat itu waktu terus berjalan.

Detik

Menit

Jam

Hari

Minggu

Bulan

Tahun

Seperti terhipnotis, aku baru saja bangun. Di tempat yang sama. Ternyata aku hanya mimpi lanjut sekolah magister. Aku hanyut bersama waktu. Kini aku berusaha bernafas dengan kalimat “belum terlambat”, mengambil langkah kecil-kecil, ragu. Kalimat itu kuteriakkan dalam hati.

Tidak apa. Aku baik-baik saja.

Aku ingin jadi guru

Anak lelaki itu tidak tahu kenapa dunia seolah membencinya hanya karna dia usil. Bibi, paman, guru, ibu, bapak, kakak tidak pernah menerima prilaku usilnya. Dia diasingkan.

Setiap hari mencari cara agar mata tertuju padanya. Tidak apa usil asal mereka memperhatikan. Namun dia semakin tidak dilihat.

Lalu cap anak nakal, bodoh, dan tidak baik sudah melekat padanya. Terima kasih pada semua orang yang telah berkontribusi atas pemberian cap padanya. Kini dia tumbuh seperti apa pemberi cap berikan.

Anak lelaki itu telah tumbuh dewasa. Kekurangan asupan positif, kepercayaan diri, pencari perhatian dengan cara negatif.


Aku belajar untuk mengapresiasi anak-anak, untuk tidak memberi label ‘nakal’ dan lain sebagainya, untuk tidak membedakan manusia, untuk tidak memandang rendah orang lain, untuk tidak membenci prilaku usil anak kecil, untuk ini dan itu.

Aku ingin jadi guru. Bukan guru yang hanya perhatian pada anak-anak berprestasi atau pada anak-anak yang kukenal ayahnya, ibunya, atau siapa-siapanya. Untuk memperlakukan orang lain sebagai mana aku ingin diperlakukan.

Puncak

Kita sedang di puncak.

Ada bintang, ada bulan.

Kota terlihat seperti galaksi dari atas, hanya terlihat cahaya lampu.

Kamu memilih espresso, aku memilih macchiato untuk menemai malam kita yang sedikit berangin.

Pinjamkan bahumu untuk bersandar, aku sedang lemah bahkan untuk menahan tubuhku sendiri.

Aku menatap kolong langit menunggumu mengajakku berdebat.

Jangan biarkan aku mengeluh, keluhan yang sama seperti kemarin kemarin. Kamu pasti bosan, aku juga.

Waiters.

Dingin.

Penyanyi akustik.

Furnitur kayu.

Steak daging.

Soda.

Cocktail.

Kita.

How are you

Hi Nuna,

Lately you prefer to be called as Nuna because it sounds soft, it’s reference as the ‘new-me’. As I know you’ve grown up well, you’ve survived in the world that you were afraid of. I remember you spent all the holiday at home for about two months. Beside going to college all you did was lock yourself in room and watch anything on laptop. I was disappointed that you didn’t read any book in past 2 years. You used to love it.

Recall the day you envy your bestie because she’s such an extrovert. She has many friends and busy doing many things that you couldn’t do, socialize. You used to hate if someone tries to talk to you. You hate it because you are scared of stranger.

Time has passed. Many things you had regreted. I started to respect you. I started to love you. Sometimes I love you too much (I should reduce it). Now you travel anytime you got, have many friends to keep you company, even talk to stranger. The important thing is you know what you want to do. Stop doubt at everything. Say out loud the magic formula, Bismillah.


A letter to myself.

Bukan

Aku tidak tahu minuman kesukaanmu. Namun yang pasti satu gelas es teh tidak cukup untukmu.

Aku tidak tahu makanan kesukaanmu. Namun yang pasti kamu akan mengambil sari** isi dua karna proporsi badanmu tidak cukup satu.

Aku tidak tahu lagu favoritmu. Namun yang pasti kamu tahu banyak lagu terkenal.

Aku tidak tahu warna favoritmu. Namun yang pasti semua warna cocok kamu kenakan.

Aku tidak tahu sosok yang kamu hormati. Namun yang pasti kamu selalu ingat pesan ayahmu.

Aku tidak tahu bagaimana kamu menghabiskan waktu ketika kurang kerjaan. Namun yang pasti kamu menyukai berfikir di banyak waktu.

Aku tidak tahu rencanamu apa di masa depan. Namun yang pasti Jepang adalah negara yang ingin kamu kunjungi.

Aku tidak tahu siapa saja pembaca setia blogmu yang anonim. Namun yang pasti aku salah satunya.

Aku tidak tahu apapun.

Ruang Hampa

“Apa yang kamu pikirkan saat melihat langit biru?”

Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri karna langit biru membuatku berfikir tentang banyak hal.

Aku bisa saja sedang duduk dalam kelas sambil menunggu anak-anak menyelesaikan tugas dan melihat keluar jendela. Melamun. Membawa pikiranku ketempat jauh

Atau

Seperti saat pagi, aku membuka jendela kamar dan kutatap langit di sela-sela pohon pisang yang mulai layu

Atau juga

Seperti saat aku duduk sendiri di lantai kedua sebuah restoran cepat saji sambil membaca buku Dunia Shopie. Aku ingat betul, waktu itu tidak mendung, tidak juga panas, padahal jam 2 siang. Sesekali aku melihat langit biru setelah mencerna buku yang kubaca.

Walaupun malam, aku selalu merasa langit berwarna biru, hanya saja biru tua. Setiap melintasi jembatan Mahakam di malam hari aku menengok ke atas sebentar untuk memastikan seberapa gelap birunya. Sekalian berkeluh kesah atau menatap kosong.

Langit itu ruang hampa, aku mengisinya dengan pikiranku. Tidak memberiku jawaban. Birunya menenangkan saja. Aku bisa menggambarkan banyak hal di sana. Terkadang kupikir juga bisa melihat masa depan di sana. Tapi tidak. Aku hanya menggambarkan masa depan ‘maunya aku’.

Jawaban

Jika saja aku menemukan kenyataan bahwa umurku tak sampai esok mungkin sekarang aku sudah ada dihadapanmu dengan jawaban yang selalu ingin kudengar.

Bukan tentang iya ataupun tidak. Aku hanya ingin jawaban apapun itu.

Sekarang aku sedikit mulai paham tentang kita, bagiku. Sedikit. Hanya sedikit.

Bahwa rasa yang kubawa puluhan purnama adalah unfinished business.

Bahwa aku hanya perlu jawaban untuk memuaskan keyakinanku.

Bahwa kamu hanyalah alasan di hari-hari yang kosong.

Bahwa jawaban akan datang saat seseorang mempertanyakan.

Bahwa yang tidak akan tidak sebanyak apapun ku pertanyakan.

Bahwa di sini hanya ada aku.

Kemeja Flanel Biru

Siang itu saat makan siang.

Kamu sedang bersandar pada bangku panjang yang dapat diduduki oleh 3 orang. Danau kecil di depanmu menyajikan pohon rindang, bunga teratai dan satu-dua angsa. Dibelakangmu adalah bangunan-bangunan tinggi dan jalanan padat.

Earphone terpasang di telingamu, jarimu terus melewatkan lagu-lagu dalam playlist yang daftarnya hanya 59 lagu hingga kamu berhenti pada arms open. Kamu melihat cover bergambar seorang ber-hoodie dan bercelana serba hitam sedang berdiri dalam malam gelap, sayap biru tergambar pada punggungnya. Pikirmu dia mungkin ingin terbang meninggalkan kesunyian, tanpa kamu memperhatikan lirik lagu yang sedang kamu dengarkan.

Beberapa menit kemudian matamu meninggalkan layar ponsel dan pikiranmu tentang cover itu. Menikmati pemandangan didepanmu. Menyantap roti coklat dari toko favoritmu. Mungkin kamu harus menghemat pengeluaran, tapi tidak untuk roti coklat.

Seseorang duduk disampingmu, kamu tidak meliriknya hanya merasakan kehadiran. Dia mungkin tidak menemukan tempat lain.

Waktu makan siang habis, saatnya kembali pada hiruk pikuk pekerjaan. Kamu berdiri dan melihat sekilas seseorang yang sedari tadi duduk disampingmu. Kemeja flanel biru.

Bukankah dia…

Jarak

Kita berada di kota yang sama, melewati jalan yang sama, mendatangi tempat-tempat yang sama.

Waktu itu kita pergi mengunjungi kota yang sama juga pergi ke tempat yang sama. Hanya saja aku tiba saat matahari bersinar paling cerah dari arah timur. Dan kau tiba saat matahari akan tenggelam dari arah barat.

Hingga di tahun ketujuh untuk pertama kalinya Tuhan pertemukan kita di tempat yang sama dalam waktu yang sama di antara ribuan kerumunan orang.

Aku tak ingin memaksa pertemuan denganmu. Tak ingin mengirimu pesan agar kau bertanya-tanya siapa pengirim misterius itu. Tidak.

Sama seperti pertemuan pertama kita, hal-hal akan mengalir seperti adanya.

2017