Malam yang tenang

Suatu malam.

Kami gugup mengingat, kami sebagai salah satu panitia acara sekolah baru balik istirahat ke rumah K sekitar pukul 2 pagi. Dan harus kembali pukul 3 pagi. Tak ada istirahat bahkan di siangnya.

Teman-teman lain mencoba tidur walau hanya beberapa menit sedang kami berdua (N dan aku) terlalu gugup, terlebih aku yang diamanatkan sebagai pemateri jeritan subuh. Hanya N dan aku yang tidak tidur.

Waktu menunjukkan pukul 3, pikir kami biarlah tunggu 10 menit lagi baru membangunkan yang lainnya.

Mereka pasti lelah, mustahil terbangun.

Pelan-pelan kami bangunkan tapi ga enakan, kami mencoba beberapa kali. Heeeem. Mereka mungkin baru akan mulai mimpi dan kami amat sangat mengganggu mereka. Kami juga ingin membangunkan dua cowo di lantai satu. Kami lebih ga enak bangunin mereka.

Oke N dan aku mutusin buat segara balik ke sekolah karna kami uda telat lebih dari 30 menit. Saat kami hendak keluar D yang di lantai satu kebangun dengan keadaan masih pengen tidur nawarin buat nganter tapi karna sepertinya bakal lebih lama nunggu D get ready, belum lagi dia mesti anter-jemput kami satu-satu jadi kami mutusin jalan kaki aja, toh dekat gini.

Jalan menuju sekolah itu harus ngelewatin 2 blok yang kebetulan lokasi ini lagi di perumahan. Sepi. Gelap. Banyak rumah. Tapi aku menyukai berjalan di malam yang tenang seperti ini. Tidak creepy sama sekali buatku.

Sampai kami melihat 2 orang di ujung pertigaan blok, kami berada di tengah. 2 orang itu di sebelah kanan. Tujuan kami ke sebelah kiri. Entah mereka siapa. N ketakutan dan menyarankan kembali. Aku bilang ke N kalau inikan perumahan toh kanan kiri kita rumah yang isinya manusia kalau ada apa-apa ya teriak aja atau lari, kan jarak sekolah udah dekat. Kata-kataku yang sok cuek itu membuat N tenang terus dia ngeyakinin dirinya sendiri buat tetap jalan.

Sampai pada kami di ujung blok dan belok kiri, 2 orang itu ngikuti kami. N sudah setengah lari dan aku nyoba nahan dia, 2 orang itu mempercepat langkah mereka. N benar-benar sudah lari. Karna N lari aku jadi panik. Akupun ingin lari tapi aku hanya mempercepat langkah. Kami hampir sampai, aku melihat D dari arah berlawanan kedua orang itu berhenti mengikuti.

Teman-teman kami bahkan takut dengan cerita itu. N pasti lebih takut dan aku dianggap gila karna ga nganggap serius orang yang ngikutin kami.

2016

Advertisements

10 thoughts on “Malam yang tenang

    1. Nu Na says:

      Iya bang. 😂 kami juga penasaran kenapa mereka ngikutin, entah niat buruk atau cuma mau mastiin kenapa 2 cewe jalan kaki tengah malam. Aneh sih mereka knp ga nanya aja langsung, malah ngikutin

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s